Langsung ke konten utama

Postingan

Industri 4.0 omong kosong tanpa industrialisasi dan manufaktur

Industri manufaktur dengan robot dan otomatisasi Istilah Industri 4.0 terdengar sangat futuristik, seringkali dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI), robot, Internet Benda-Benda atau  Internet of Things (IoT), data besar ( big data ), dan kembaran digital ( digital twin ). Di atas panggung seminar, konsep ini tampak seperti jalan pintas menuju kemajuan, yakni  loncatan teknologi tanpa harus melewati fase industrialisasi yang panjang dan melelahkan . Masalahnya adalah  logika tersebut keliru secara struktural . Argumen provokatif ini sebenarnya sederhana namun kokoh, menegaskan  "tidak bisa mendigitalisasi sesuatu yang tidak ada" . Industri 4.0 bukanlah pengganti industri, tetapi adalah sebagai  paket peningkatan ( upgrade ) bagi basis industri dan manufaktur yang sudah eksis. Industri 4.0 bukanlah industri biasa Ini adalah kesalahan kaprah yang paling umum di mana sekian pemangku kepentingan memperlakukan Industri 4.0 seolah-olah sebagai sektor ekonomi baru....

Tidak semua bahan kimia berbahaya

Tabel Susunan Berkala (Sistem Periodik) Unsur-Unsur Kimia [Sumber: American Chemical Society ] Tidak semua bahan kimia bersifat bahaya.  Faktanya, anggapan bahwa “kimia bersifat bahaya” adalah salah satu kesalahpahaman paling umum di masyarakat modern. Mari kita luruskan pelan-pelan, tanpa ceramah, dengan logika yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 🧪 1. Semuanya adalah zat kimia — termasuk Anda Ini terdengar mengejutkan bagi sebagian orang, tapi ini fakta dasar: Air = zat kimia (H₂O) Udara = campuran zat kimia Tubuh manusia = sistem biokimia yang sangat kompleks Makanan = kumpulan zat kimia Anda secara harfiah adalah kantong bahan kimia yang berjalan . Jika kata “bahan kimia” berarti “berbahaya” , maka kehidupan tidak mungkin ada sejak awal . 👉 Jadi masalahnya bukan apakah sesuatu itu bahan kimia, melainkan: Dosis + paparan + sifat = risiko ⚖️ 2. Aturan emas toksikologi Prinsip paling penting dalam ilmu toksikologi berbunyi Dosis menentuk...

Bagaimana dunia MENIPU Anda?

Selama ribuan tahun lamanya, manusia hidup di dunia ini dengan anggapan bahwa apa yang mereka lihat, dengar, dan alami adalah nyata. Dunia ini tampak seperti panggung sandiwara yang megah—penuh warna, peluang, tantangan, dan harapan. Tapi apa jadinya jika saya katakan bahwa sebagian besar dari apa yang Anda yakini, yang Anda jalani, bahkan yang Anda perjuangkan... bisa saja tipuan atau  ilusi ? Kenyataannya, dunia ini—dengan semua janji-janji indahnya—sering kali tidak lebih dari sekadar permainan dan senda gurau belaka . Pernyataan ini bukan hanya filsafat klasik atau ajaran agama, melainkan juga dapat diamati dalam struktur sosial, ekonomi, budaya, bahkan pendidikan kita. Dan seperti semua ilusi yang baik, Anda tidak menyadarinya... sampai terlalu terlambat. 1. Dunia Penuh Ilusi dan Fatamorgana Anda mungkin berpikir bahwa jika Anda bekerja keras, menabung, lalu pensiun di usia 60, semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jika saya katakan bahwa sistem ini—kerja hingga tua...

Iblis dan setan lebih pintar ilmunya daripada manusia, mengapa demikian?

Di zaman yang penuh dengan tuntutan pencapaian ilmu pengetahuan ini, banyak orang menganggap bahwa ilmu adalah segalanya. Gelar akademik ditinggikan, kepintaran dijadikan tolak ukur kesuksesan, dan mereka yang memiliki pengetahuan luas sering kali dijadikan panutan. Tapi benarkah ilmu saja cukup untuk membuat manusia berbudi luhur? Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang wali besar dan ulama sufi yang sangat dihormati, pernah berkata bahwa beliau lebih menghargai orang yang beradab daripada yang sekadar berilmu. Mengapa? Karena iblis dan setan pun sebenarnya lebih tinggi ilmunya daripada manusia, namun mereka tetap terlaknat. Ilmu Iblis: Mendalam Tapi Tidak Membawa Hidayah Iblis diciptakan sebelum manusia. Ia memiliki pengetahuan tentang para malaikat, makhluk-makhluk Allah, bahkan pernah hidup di langit bersama para malaikat. Dalam riwayat, Iblis adalah ahli ibadah yang luar biasa. Ia mengetahui banyak hal tentang tauhid, penciptaan, dan perintah-perintah Tuhan. Namun, ketika Alla...

Kesalahan-kesalahan umum dalam belajar bahasa

Belajar bahasa merupakan suatu kegiatan yang sangat penting bagi setiap orang. Di dalam era globalisasi seperti sekarang ini, kemampuan berbahasa menjadi suatu keniscayaan yang harus dimiliki oleh setiap individu. Namun, dalam proses belajar bahasa, seringkali kita melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menghambat kemampuan kita dalam mempelajari bahasa tersebut. Berikut adalah beberapa kesalahan umum dalam belajar bahasa yang harus dihindari: Tata bahasa [sumber: cpet.tc.columbia.edu] 1. Tidak mempelajari tata bahasa yang baik dan benar Tata bahasa merupakan salah satu unsur penting dalam bahasa. tanpa mempelajari tata bahasa dengan baik dan benar, kita sulit untuk memahami dan menggunakan bahasa dengan benar. Oleh karena itu, sebaiknya kita mempelajari tata bahasa dengan seksama agar kemampuan berbahasa kita semakin baik dan benar. Membaca dan menulis [sumber: www.myenglishlanguage.com] 2. Tidak membaca dan menulis dengan aktif Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang sangat pen...

Rasisme dan diskriminasi di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Mengapa pernyataan “tentara harus hitam/putih” justru memperkeruh semangat persatuan? Pendahuluan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dikenal sebagai garda terdepan pertahanan negara yang menjunjung tinggi semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” . Namun, seiring dengan berkembangnya wacana kesetaraan dan keadilan sosial bagi Indonesia, muncul pula pertanyaan kritis: Apakah TNI sudah bebas dari rasisme dan diskriminasi? Isu ini kembali mengemuka ketika beredar pernyataan tidak resmi namun viral yang menyebutkan bahwa “tentara harus hitam/putih” , seakan menyiratkan bahwa hanya orang dari kelompok tertentu—baik secara etnis, warna kulit, maupun ideologi—yang layak menjadi bagian dari militer. Pernyataan ini, walau terdengar metaforis, membuka luka lama tentang diskriminasi struktural dalam institusi pertahanan Indonesia. Sejarah Panjang dan Bayang-bayang Diskriminasi TNI lahir dari perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan (kolonialisme). Ironisnya, setelah kemerdekaan, berbagai kelompok...

Ejaan dan pengucapan rembulan (qamariah) dan mentari (syamsiah)

Pernahkah Anda mendengar seseorang mengucapkan “Al-Syams” dengan sangat jelas menyuarakan huruf “L”-nya? Atau justru menyebut “An-Nur” tetapi tetap melafalkannya sebagai “Al-Nur”? Jika iya, maka Anda telah bersinggungan langsung dengan fenomena penting dalam kaidah ejaan dan pelafalan bahasa Arab: huruf qamariah dan huruf syamsiah . 🌙 Qamariah dan 🌞 Syamsiah: Apa Bedanya? Dalam bahasa Arab, huruf-huruf hijaiyah terbagi menjadi dua kelompok ketika didahului oleh "alif-lam" (الـ) sebagai kata sandang atau artikel penentu ( definite article , seperti “the” dalam bahasa Inggris): Huruf Qamariah (القمرية = "rembulan") Huruf-huruf ini tetap melafalkan huruf "L" dari "Al-" saat dibaca. Contoh: القمر (Al-Qamar) = Bulan ✔️ Pengucapan: Al-Qamar (dengan “L” yang terdengar) Huruf Syamsiah (الشمسية = "mentari") Huruf-huruf ini menyebabkan huruf “L” dari “Al-” tidak dibaca , dan huruf pertama dari kata ditekan atau digandakan ...

Pro dan kontra pengakuan terhadap kedaulatan Israel

Isu pengakuan terhadap kedaulatan Israel adalah salah satu topik paling sensitif di dalam diplomasi internasional, khususnya bagi negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Selama lebih dari tujuh dasawarsa (dekade), Indonesia menolak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wacana pengakuan terhadap Israel kembali mengemuka, terutama dengan prasyarat bahwa Israel harus mengakui kedaulatan Palestina dan menghentikan agresinya. Apakah pengakuan terhadap Israel berarti pengkhianatan terhadap Palestina? Ataukah ini justru strategi diplomatik untuk memaksa Israel tunduk pada solusi dua negara? Mari kita telaah pro dan kontra dari sudut pandang geopolitik, kemanusiaan, dan kepentingan nasional. Argumen Pro: Mendukung Pengakuan Kedaulatan Israel 1. Strategi Diplomatik untuk Solusi Dua Negara Dengan menjadikan pengakuan terhadap Israel sebagai alat tawar, Indonesia dapat menek...

Larangan di dalam transportasi umum serta pengecualiannya

Transportasi umum seperti kereta api, bus kota, MRT, dan LRT menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat modern, terutama di kota-kota besar. Namun, untuk menjaga kenyamanan bersama, terdapat beberapa larangan yang perlu dipatuhi oleh seluruh penumpang. Salah satu yang paling umum dan sering diperdebatkan adalah larangan makan dan minum di dalam transportasi umum . 🎯 Tujuan dari Larangan Larangan-larangan ini bukan dibuat untuk membatasi kebebasan individu, melainkan untuk memastikan: Kebersihan : Makanan dan minuman dapat menumpahkan remah, cairan, atau meninggalkan bau menyengat yang mengganggu penumpang lain. Keselamatan dan Keamanan : Tumpahan minuman bisa menyebabkan lantai licin dan meningkatkan risiko tergelincir, terutama saat kendaraan sedang berjalan atau mengerem mendadak. Kenyamanan : Tidak semua orang nyaman duduk di dekat seseorang yang sedang makan, terutama jika aromanya menyengat atau makanannya berantakan. Efisiensi Operasional : Petugas kebersihan tid...

Selebritas internet (selebnet) di Tanah Air

Selebritas internet (selebnet) , atau akrabnya dikenal sebagai artis internet (artisnet) , adalah mereka yang memperoleh ketenaran melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan jejaring sosial lainnya. Mereka bukanlah hanya wajah-wajah yang muncul dari layar kaca, melainkan hasil dari algoritma, kreativitas, konsistensi, dan kedekatan langsung dengan warganet. Di era di mana gawai elektronik selalu berada dalam genggaman, mereka menjadi wajah baru dari industri hiburan dan komunikasi publik.

Mengapa orang Indonesia sukses, sedangkan negara Indonesia tidak?

Secara individu, banyak orang Indonesia yang brilian. Dari insinyur teknologi di Silicon Valley hingga pemegang gelar PhD yang mengajar di universitas-universitas Barat, dari CEO multinasional hingga petinggi PBB — orang Indonesia telah berulang kali membuktikan bahwa mereka bisa bersaing sejajar dengan yang terbaik di dunia. Namun paradoksnya sangat mencolok: ketika individunya berhasil, negaranya justru tertinggal. Mengapa? Indonesia, seperti halnya India, menghadapi ironi yang kompleks: memiliki individu berkelas dunia, namun kesulitan dalam memajukan negara secara sistemik. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menghadapi kenyataan pahit tentang struktural dan budaya kita. Jika kita ingin Indonesia bangkit, kita harus berani mengajukan pertanyaan yang sulit: tentang diri kita sendiri, sistem kita, dan pola/cara pikir kita.

"Utsmani" atau "Ottoman"?

Sebagai kekuasaan negara lintas dua benua, Turki memang menjadi salah satu peradaban paling berpengaruh dalam sejarah dunia, terutama di kawasan Eurasia termasuk Timur Tengah. Dari pegunungan Balkan yang keras hingga padang pasir di Arab, dari wilayah Kaukasus yang dingin hingga pantai/pesisir Afrika Utara yang panas dan gersang, kekuasaan ini menjelma menjadi kekuatan militer, politik, budaya, dan agama yang luar biasa luas dan besarnya. Inilah yang kita kenal sebagai Kekaisaran Turki Utsmani. Ekspansi kekuasaan Utsmani [sumber: Encyclopaedia Brittanica] Namun dalam tulisan ini, saya tidak sekadar ingin mengagumi kebesaran Turki atau sekadar ikut-ikutan menyebut nama peradaban besar ini. Saya ingin membahas soal istilah yang sering muncul dalam berbagai percakapan dan konten media digital: "Utsmani" dan "Ottoman". Namun, dalam konteks kebahasaan Indonesia, saya merasa ada yang kurang pas. Bukan salah total, tapi tidak selaras. Bahasa Indonesia memiliki sistem fonol...

Jika Majapahit masih bertahan

Mungkin Anda pernah membayangkan: "bagaimana jika Majapahit tidak runtuh?" Sebuah pertanyaan yang menggelitik imajinasi dan membangkitkan rasa ingin tahu kita terhadap sejarah alternatif Nusantara. Kerajaan Majapahit, yang berkuasa dari abad ke-13 hingga ke-16, dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Asia Tenggara. Wilayah kekuasaannya membentang dari Sumatera hingga Papua, bahkan menjangkau Semenanjung Malaya dan sebagian Filipina. Namun sayangnya, kejayaannya berakhir karena perebutan kekuasaan, pemberontakan daerah, dan tekanan dari kerajaan-kerajaan Islam yang sedang bangkit. Tapi mari kita bermain dengan imajinasi: " bagaimana jika Majapahit tidak runtuh?" 1. Nusantara Mungkin Menjadi Sebuah Bangsa dan Negara Lebih Awal Jika Majapahit mampu bertahan dan melewati konflik internalnya, kemungkinan besar wilayah Nusantara sudah mengalami penyatuan politik jauh sebelum penjajah Eropa datang. Kesatuan dan persatuan ini mungkin mencipta...

Jika Nusantara 'tidak dijajah'

Mungkin Anda mempertanyakan, mengapa saya membubuhkan tanda petik pada kata “tidak dijajah”? Sejatinya, kata “tidak dijajah” mengandung ironi. Sebab dalam sejarah panjang Nusantara, pertanyaan soal ‘penjajahan’ tidak sesederhana kedatangan bangsa Eropa. Penaklukan dan perebutan kekuasaan telah terjadi bahkan sebelum kedatangan bangsa Portugis ke Malaka atau VOC ke Batavia. Dalam skala regional, kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit pun terlibat dalam ekspansi kekuasaan, persekutuan politik, bahkan perbudakan. Maka dari itu, kata “tidak dijajah” harus dibaca secara kritis — siapa yang menjajah siapa? Dalam konteks global atau domestik? Namun, mari kita bermain dalam ruang spekulatif: bagaimana jika Nusantara tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa? Bagaimana jika Majapahit, sebagai kerajaan maritim terbesar yang pernah ada di Asia Tenggara, tidak runtuh pada abad ke-15 dan justru berhasil berevolusi menjadi kekuatan modern? Warisan Majapahit: Dari Imperium ke Bangsa dan...

Thailand tidak semaju Jepang dan Korea Selatan, Apakah suatu negara yang tidak dijajah menjadikannya lebih maju?

Dijajah atau tidak dijajah tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kemajuan suatu negara. Contohnya saja  Thailand yang tidak semaju Jepang dan Korea Selatan , bagaimana demikian? Perlu diketahui, wilayah Korea (kini Korea Utara dan Korea Selatan) pernah diduduki dan dijajah oleh bangsa tetangganya, yaitu Jepang pada abad ke-20. Hal berikut inilah yang menimbulkan munculnya berbagai cerita tentang para prajurit tentara Korea yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah para prajurit tentara Korea yang datang ke Indonesia saat Perang Dunia II sebagai anggota bala tentara Jepang. Penurunan Bendera Jepang di Keijo (kini Seoul) pasca Perang Dunia II, menandakan kemerdekaan Korea dari pendudukan dan penjajahan Jepang. [Sumber:  80-G-391464 Surrender of Japanese Forces in Southern Korea, S80-G-391464 Surrender of Japanese Forces in Southern Korea, September 1945 - NHHC ] Tidak pernah dijajah, membuat suatu negara menjadi maju? Sayangnya, pertanyaan tersebut ...