Selama ribuan tahun lamanya, manusia hidup di dunia ini dengan anggapan bahwa apa yang mereka lihat, dengar, dan alami adalah nyata. Dunia ini tampak seperti panggung sandiwara yang megah—penuh warna, peluang, tantangan, dan harapan. Tapi apa jadinya jika saya katakan bahwa sebagian besar dari apa yang Anda yakini, yang Anda jalani, bahkan yang Anda perjuangkan... bisa saja tipuan atau ilusi?
Kenyataannya, dunia ini—dengan semua janji-janji indahnya—sering kali tidak lebih dari sekadar permainan dan senda gurau belaka. Pernyataan ini bukan hanya filsafat klasik atau ajaran agama, melainkan juga dapat diamati dalam struktur sosial, ekonomi, budaya, bahkan pendidikan kita.
Dan seperti semua ilusi yang baik, Anda tidak menyadarinya... sampai terlalu terlambat.
1. Dunia Penuh Ilusi dan Fatamorgana
Anda mungkin berpikir bahwa jika Anda bekerja keras, menabung, lalu pensiun di usia 60, semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jika saya katakan bahwa sistem ini—kerja hingga tua demi istirahat sejenak di akhir hidup—adalah sistem yang dibentuk agar Anda tetap patuh, bukan merdeka?
Seperti peta dengan proyeksi Mercator yang membuat negara-negara di utara tampak lebih besar dan dominan, sistem dunia kerja membuat keberhasilan tampak seperti sesuatu yang dapat Anda raih asal berusaha. Padahal, realitasnya: peluang, privilese, dan koneksi sering kali menjadi penentu utama.
2. Dunia Memberi Data, Tapi Menyembunyikan Makna
Seperti peta persebaran jaringan seluler yang dipenuhi warna-warni indah tapi tak sesuai kenyataan di lapangan, dunia juga memberikan Anda data dan narasi, tapi bukan makna sejati. Berita di media, pengaruh dari pemengaruh influencer, bahkan data statistik bisa jadi menipu jika Anda tak tahu konteksnya.
Contoh paling nyata adalah ketika pencapaian suatu negara dilaporkan berdasarkan PDB semata, padahal indeks kebahagiaan, kesehatan mental, dan kesenjangan sosialnya justru bisa juga mengkhawatirkan. Tapi siapa peduli soal makna, selama angka-angka tampak meyakinkan?
3. Dunia Menjual Impian, Tapi Mengurung Realitas
Dunia akan berkata, "Jadilah diri sendiri", "Ikutilah hasratmu", "Semua bisa berhasil". Tapi kenyataannya? Sistem pendidikan, struktur sosial, dan algoritma media sosial justru mendikte apa yang harus Anda pelajari, percayai, dan sukai.
Seperti halnya peta hasil pemilihan umum (pemilu) yang menggambarkan satu warna mendominasi padahal realitasnya jauh lebih kompleks dan berimbang, dunia juga sering menyederhanakan narasi: ini baik, itu buruk. Padahal hidup jauh lebih rumit dari sekadar hitam dan putih.
4. Dunia Membingkai Arah, Tapi Tidak Menunjukkan Arah
Peta dunia meletakkan utara di atas dan selatan di bawah. Tapi seperti dijelaskan dalam peta orientasi selatan-ke-atas, tidak ada atas atau bawah di luar angkasa. Itu hanya perspektif. Sama halnya dengan dunia—apa yang Anda anggap sebagai ‘keberhasilan’ atau ‘kegagalan’ sering kali hanyalah hasil dari pembingkaian sosial.
Seorang yang tinggal di kota kecil dan hidup sederhana bisa jadi lebih damai daripada orang kaya di pusat kota besar. Tapi dunia tidak mengajarkan Anda menilai keseimbangan, melainkan prestise.
Jadi, Apa Yang Bisa Anda Lakukan?
Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata:
Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu. Karena kalau hanya berilmu, Iblis lebih tinggi ilmunya daripada manusia.
Dunia ini mungkin tampak mengagumkan, tapi juga penuh tipuan. Anda bisa jadi tahu banyak hal, tapi tetap tertipu jika tidak beradab, tidak sadar, tidak sadar penuh (mindful).
🌍 Dunia tidak selalu jujur. Tapi Anda bisa memilih untuk tidak dibodoh-bodohi.
Apakah Anda masih yakin dunia ini seperti yang Anda kira?
Komentar
Posting Komentar